ASMARA NABABAN : Konsistensi Tanpa Kompromi

by anonim

Asmara Nababan yang akrab dipanggil bang As adalah sosok pejuang demokrasi dan hak asasi di Indonesia yang dikenal dengan keberanian, ketegasan dan konsistensinya. Namanya diabadikan sebagai nama ruang di Kantor Komnas HAM. Namanya juga melekat dalam ingatan para pekerja HAM, para korban kejahatan HAM, dan masyarakat sipil pada umumnya.  Namanya disebut dalam banyak dokumen advokasi kasus kejahatan hak asasi karena keterlibatannya dalam kerja-kerja advokasi.

Secara pribadi saya sendiri punya banyak kenangan dengan bang As karena pernah bekerja bersamanya di beberapa kegiatan. Salah satunya adalah di Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998. Ini kerja advokasi yang menguras tenaga dan mental karena di dalamnya sarat dengan pertarungan. Namun bang As tidak mengenal kata letih saat “bertarung” dengan pihak-pihak yang hendak menggunakan TGPF untuk menggelapkan fakta rusuh Mei 1998. Anggota TGPF berasal dari perwakilan Komnas HAM, perwakilan masyarakat sipil, Ormas dan perwakilan lembaga-lembaga pemerintah, termasuk POLRI dan TNI. Sangat kentara bagaimana para wakil dari lembaga pemerintah, terutama POLRI dan TNI, mengemban tugas untuk menyangkal adanya pemerkosaan dalam kerusuhan Mei 1998. Saya jadi paham mengapa pada saat itu bang As mengingatkan untuk hati-hati dalam menjaga data. “Jangan serahkan data pada orang-orang yang kita tidak yakin bisa dipercaya”, begitu pesan bang As saat melihatku keluar ruangan membawa map berisi kumpulan data rusuh Mei. Di saat yang lain bang As juga berusaha untuk membesarkan semangat dan mengingatkanku untuk menjaga stamina. Ia sempat mengatakan, “Kalau kita lelah, para penjahat HAM itu yang akan menang.” Saya memang melihat bang As tetap segar meski berhari-hari melakukan rapat panjang hingga dini hari. Ia tetap siaga dan jernih saat membahas dan menganalisis temuan-temuan TGPF.  Stamina dan Daya juangnya tidak mengenal kuota.

Bukan hanya tidak kenal kata letih. Bang As juga tidak mengenal kata kompromi dalam mempertahankan kebenaran. Baginya kebenaran tidak bisa dikompromikan demi apapun. Ketika ada perwakilan dari TNI yang berupaya untuk menyabotase pertemuan tim TGPF dengan pihak pemerintah untuk mengumumkan hasil kerja TGPF, bang As tetap bertahan dengan sikap tidak kompromi. Ia menegaskan, apapun yang terjadi hari ini laporan harus tetap diumumkan ke publik. Saat itu ia memberikan jalan keluar bagi para anggota TGPF yang tidak menyetujui temuan TGPF untuk memberikan “catatan keberatan” atau “minderheit nota”. Dari semua anggota TGPF yang merupakan perwakilan lembaga-lembaga pemerintah hanya perwakilan dari TNI dan POLRI saja yang memberikan catatan keberatan  atas temuan TGPF dan catatan keberatan itu hanyalah tentang perkosaan Mei 1998.

 Bang As adalah sosok substansial. Ia tidak menilai orang dari bungkusnya. Itu juga yang berlaku pada dirinya. Tak peduli siapa yang dihadapinya, ia menganggapnya sebagai orang penting. Sebagai sosok substansial, penampilannya bersahaja. Kemanapun ia pergi, ia dikenali dari sepatu sandalnya, hem lengan pendek dan tas gantungnya. Sepatu sandalnya pernah dipersoalkan saat ia diundang oleh pejabat tinggi untuk membicarakan perkara hak asasi. Sudah lazim kalau orang diundang pejabat menggunakan sepatu tertutup. Bang As tidak ambil pusing. Ketika sepatu sandalnya dipersoalkan ia menjawabnya dengan pertanyaan, “Yang diundang saya atau sepatu saya.” Begitulah bang As, suka kocak dalam keseriusannya.

Penulis: Sri Palupi, The Institute for Ecosoc Rights

You may also like

Leave a Comment